Rabu, 10 Februari 2010

Cerita Pendek Dari Cafe novel

Imagosentris
    • Dewi Lestari


Imagosentris!
Jangan tanya saya dari mana asal istilah itu, karena itu hasil rekaan saya sendiri ketika tengah merenungi fenomena budaya global ini. Image atau citra adalah adimagnet yang kini menjadi titik sentral dari kebudayaan modern, menariki semua orang — miliaran paku payung yang dengan sukarela ikut menari dalam tarian magnetis nan membius.
Hidup adalah gerakan antistatis. Dan kita dapat menyaksikan bagaimana bentangan sejarah tersarikan dalam ayunan sederhana sebuah bandul; meninggalkan satu mainstream menuju cikal bakal mainstream lainnya. Apa yang dicap kontroversial pada satu masa akan menjadi fosil pada masa yang lain. Dan apa yang sekarang kita tanggapi dengan cengangan dan banjuran kekaguman, cepat atau lambat, akan kita lewati dengan perasaan gersang.
Dalam setiap peralihan posisi bandul tadi, selalu ada kawanan 'martir' dan 'pahlawan' yang muncul. Siapakah gerangan mereka?
Saya yakin akan ada letupan nama-nama di benak Anda, dari mulai Janis Joplin sampai Jonathan Davis (Korn). Pada citra mereka itulah ditanamkan representasi kita terhadap gerakan resistensi heroik melawan rambu normalitas ataupun mainstream. Jangan heran kalau label absurditas dan abnormalitas kini bukan lagi celaan, melainkan klaim pujian dan simbol keberanian.
***
Namun bagaimana kalau saya tawarkan sosok yang lebih mencengangkan lagi? Ambillah cermin. Berkacalah di sana. Detik pertama pikiran Anda mulai merumuskan bayangan yang muncul, detik itu juga Anda menemukan sang 'pahlawan'. Anda adalah partisipan yang tidak kalah penting dalam proses perubahan wajah dunia. Terlepas dari Anda seseorang yang melek budaya, seorang apatis sejati, atau seorang korban mode.
Kita semua berperan dalam gerakan imagosentris. Dunia citra dan simbol, yang selama ini digembar-gemborkan sebagai konsep eksklusif milik postmodernisme dan isme-isme lain, ternyata bisa saja bersemayam pada level hakekat. Tidakkah pernah terlintas kalau alam dan manusia juga hasil proyeksi dari 'Sesuatu'? Dan sebuah 'mini' semesta pun termanifestasi dalam setiap pikiran ketika seseorang mulai mampu memaknai citraan dirinya sendiri. Berdasarkan citra itulah kebanyakan dari kita menjalankan hidup. Kita jatuh cinta pada citra, sengsara karena citra, mengorbankan nyawa demi mempertahakankan sebuah citra, dan seterusnya.
Pulau Jawa tanpa citra ke-jawa-annya hanyalah segumpal tanah tak bernama. Indonesia tanpa citra adalah konstelasi pulau anonim. Adalah citra yang otomatis menghadirkan batas, rambu, penilaian, blablabla, yang lalu diimanensikan dalam realitas ini. Jadi, siapakah gerangan bayangan cermin yang Anda lihat tadi? Siapakah Anda sesungguhnya? Siapakah saya? Apakah realitas ini? Adakah sesuatu yang benar-benar sejati?
***
Setelah kita sejenak bermain-main di area 'basement' tadi, marilah kita meloncat lagi ke batas antara normal dan abnormal, dan upaya keras manusia untuk menarik batas pembeda antara keduanya... tidakkah kita menemukan betapa konyolnya itu semua? Lucunya lagi, justru 'kekonyolan' itulah yang menjadi roda penggerak industri terbesar di Bumi: bisnis citra.
Menolak dunia citra ini adalah usaha yang sia-sia. Realitas kita berada pada level materi, dan materi itu sendiri adalah proyeksi citra dari level yang lebih halus: level energi. Kultur, ekonomi, pasar, dan seterusnya adalah rangkaian epifenomena dari fenomena abstrak yang niscaya tidak mampu termuat dalam kata-kata.
Bercerminlah sekali lagi. Lebih dalam. Seberangilah bayangan fisik yang muncul, dan bedahlah tumpukan image yang selama ini telah membentuk Anda. Sesuatu telah membuat Anda memilih celana kargo, tank-top, T-shirt band favorit, parfum tertentu, model rambut, CD kesukaan, hobi, sampai cara berjalan. Citra apa yang tengah Anda perankan? Apakah sudah cukup keren? Cukup trendi? Cukup cool?
Ketika ditanya demikian, kebanyakan dari kita bakal menjawab, "Ah, gue sih asik-asik aja." Dan ketika dicecar lagi dengan pertanyaan 'kenapa', jawabannya adalah, "Nggak tahu. Pokoknya suka aja."
Citra memang membius. Citra bagaikan makhluk yang menuntut untuk terus diberi makan. Citra mengonsumsi perhatian kita. Detik demi detik. Nyaris tak memberikan kesempatan untuk bertanya. Akan tetapi, sama halnya dengan lambung, ada baiknya juga citra 'berpuasa' sekali-sekali. Ketika kita menjadi penonton yang berjarak, maka kita bisa memberi jeda sebentar pada diri kita. Tidak melulu menjadi obyek mesin hasrat (desiring machine) — istilah psikoanalisis Gilles Deleuze dan Felix Guattari untuk menerangkan mekanisme produksi ketidakcukupan dalam diri seseorang — tapi sesekali memberikan kesempatan bagi diri untuk merasakan energi kreativitas yang sesungguhnya. Kalau Anda beruntung, tentu saja. Tidak ada yang pasti di sini. Yang jelas, hidup rasanya mubazir apabila cuma terus menerus memberi makan pada mesin hasrat yang tak nyata.
Bercermin dan membedah refleksinya terkadang dapat menyelamatkan kita dari konflik superfisial yang tak perlu, seperti menghakimi teman yang tidak segenre, berpusing-pusing menariki batas sana-sini dan bertingkah seperti satpam penjaga portal, karena seperti apakah sebenarnya 'Normal'? Adakah kenormalan sejati? Adakah keabnormalan? Jangan-jangan semuanya adalah jajaran citra yang ingin diberi makan. Tidak ada yang lebih baik, juga tidak ada yang lebih buruk.
Mungkin sebagian akan bertanya, bukankah itu namanya pementahan? Dan pementahan adalah musuh besar kreativitas.
Ada perbedaan besar antara mementahkan dan mempertanyakan. Derrida akan menyebutnya dekonstruksi. Kalau saya, supaya lebih gampang di lidah, menyebutnya bedah citra. Satu dari sekian banyak metoda bagi Anda yang ingin menjadi penonton berjarak.
Setiap kali Anda bercermin, coba tembusilah lapisan demi lapisan citra yang membungkus Anda selama ini. Realitas yang lebih segar mungkin akan muncul. Tepatnya, realitas yang lebih... riil. Apa adanya, hingga yang ada tinggal ada. Dan mari kita tercengang bersama. ©

Cerita Pendek Dari Cafe novel

Sinkronisitas
    • Dewi Lestari

Sebut saja inisial pacar saya DL. Buntut nomor ponsel saya 7929. Setelah tidak ada kontak selama berhari-hari, satu malam saya tercenung di tempat parkir. Mata saya tahu-tahu tertumbuk pada satu plat mobil: B 7929 DL. Saya langsung yakin, malam ini saya pasti dapat kabar darinya. Dan benar saja, tidak sampai sepuluh menit, ponsel saya berbunyi.
Satu hari, saya membaca sebuah buku dalam perjalanan mobil. Buku yang sangat menggugah itu rupanya terserap begitu intens sehingga mungkin ada satu jendela sensitivitas saya yang terbuka. Ketika saya membaca sebuah bab yang membahas perihal arti nama, mendadak saya terdorong untuk mendongak, hanya untuk mendapatkan sebuah truk pasir di depan saya yang bertuliskan besar-besar: 'Arti Sebuah Nama'. Saya pun termenung lagi. Apakah arti semua ini? Terlalu naif kalau saya sebut kebetulan. Rasa-rasanya semesta sedang bergerak bersama dengan pikiran. Memberi konfirmasi untuk sesuatu yang dianggapnya berguna. Sekalipun konfirmasinya diberikan melalui hal seremeh tulisan pada truk atau nomor plat mobil, tapi bisa jadi itu menjadi jalan menuju wawasan yang lebih dalam.
Sinkronisitas dapat diartikan sebagai kebetulan-kebetulan yang bermakna. Bahkan istilah 'kebetulan' pun tidak lagi sufisien, karena pada level tertentu tidak ada satu hal pun yang kebetulan atau insidental. Semua punya makna. Semua berinterelasi dalam satu maha rencana.
Sinkronisitas adalah proses dialogis, sebuah pola komunikasi dari 'tali pusar' yang menghubungkan semua pikiran, perasaan, sains dan seni dalam rahim semesta, yang kemudian melahirkan semuanya ke dalam realitas ini. Itulah yang membedakan sinkronisitas dengan kebetulan belaka, yaitu makna inheren yang terkandung di balik segala peristiwa tadi. Sinkronisitas menunjukkan ada satu nuansa makna yang kaya, bahkan dalam hal paling insignifikan sekalipun — andaikan kita mau lebih sensitif menelaahnya.
Realitas yang kita geluti sehari-hari adalah realitas dualistis yang senantiasa melihat segalanya dalam dikotomi: terang-gelap, benar-salah, tinggi-rendah, dan seterusnya. Boleh dibilang, begitulah cara kerja alamiah pikiran kita. Sehingga otomatis segalanya menjadi linear, cause and effect. Saya begini karena kamu begitu. Saya jadi begini karena kemarin saya berbuat begitu. Siapa yang menabur, dia akan menuai.
Namun sinkronisitas memberikan alternatif pikir lain, bahwa dengan sudut pandang yang lebih tinggi, semesta tidak lagi berbicara dalam bahasa sebab-akibat. Semesta bukan garis lurus yang punya awal dan akhir. Melainkan sebuah lingkaran tak terputus yang terus berekspansi. Segalanya ternyata sinkronis. Atau bisa diartikan, semesta bergerak dalam satu gerakan tunggal. Namun sayangnya, paham reduksionis yang mendominasi dunia sains cenderung membawa sudut pandang dunia — dari mulai level sosial ekonomi hingga budaya — untuk mereduksi sinkronisitas menjadi fragmen-fragmen yang tak terperhatikan. Kausalitas, masih memiliki efek hipnotis kuat yang membawa kita untuk terus menerus berusaha menguasai kehidupan dengan cara memecah-belahnya menjadi bagian-bagian kecil yang bisa dianalisis dalam kontrol penuh.
***
Saya ingin mengambil satu contoh, yakni permainan tenis. Dalam sudut pandang yang kausal, permainan tersebut begitu sederhana, sekadar perjalanan sebuah bola yang dipukul bolak-balik. Setiap pukulan adalah hasil kontraksi otot lengan pemainnya. Info posisi inisial maupun kecepatan setiap pukulan menjadikan lintasan bola itu terukur dan terhitung. Namun, ada daya lain yang ikut memberi pengaruh yakni gravitasi. Dan gravitasi beroperasi pada keseluruhan ruang si bola, bukan pada gerakan inisialnya saja. Sementara menurut Einstein, gravitasi adalah gerakan ruang-waktu yang melengkung, sehingga apabila didesak sampai batasnya, kausalitas yang terjadi harus melibatkan lintasan bulan, planet dan bintang, bahkan massa orang yang lalu lalang di lapangan tenis itu. Dengan kata lain, seluruh elemen semesta punya peran dalam menentukan lintasan bola tenis tadi. Maka tidak berlebihan kalau Edward Lorenz berkata bahwa kepakan kupu-kupu di Hongkong dapat mengakibatkan badai besar di New York.
Rantai sebab-akibat tersebut dapat dilihat juga sebagai network atau jaringan. Semakin lebar batasan satu masalah ditarik maka semakin nyata rengkuhannya yang meliputi seluruh dunia, tata surya, bahkan semesta. Segalanya mengakibatkan segalanya.
Setiap dari kita pastinya pernah mengalami sinkronisitas, betapapun remeh kejadiannya, baik disadari atau tidak. Ada pendapat yang mengatakan bahwa sinkronisitas biasanya baru terasa pada titik kritis kehidupan seseorang, yang bisa diinterpretasikan sebagai bibit perkembangan orang itu pada masa yang akan datang. Ada juga yang melihatnya sebagai konfirmasi bahwa kita berjalan di jalur yang 'tepat'. Namun saya juga ingin menambahkan bahwa sinkronisitas adalah dialog yang terjadi antara diri kita dan Diri, dan satu bukti bahwa pada satu level kita semua adalah satu.
Bibit pemecah-belah yang terjadi di segala aspek kehidupan adalah imbas dari cara pandang yang reduksioner, sehingga 'power' adalah sesuatu yang perlu diperebutkan dan bukan dibagi. Cinta adalah sesuatu yang harus diperjuangkan dan bukannya tumbuh alami. Simbiosa antarmakhluk dilihat sebagai kompetisi antara yang lemah dan kuat. Kita menghakimi orang-orang dengan mengategorikannya sebagai 'winner' dan 'looser' . Dan cara pandang ini adalah warisan ratusan bahkan ribuan tahun.
Sinkronisitas adalah sudut pandang alternatif yang memungkinkan kita untuk melihat realitas yang sama sekali lain. Dan tentu saja, itu akan membawa perubahan perilaku dan sikap. Bukti dampak pandangan reduksionisme pada dunia rasanya tidak perlu kita perdebatkan: perang yang tak kunjung punah, separuh dunia yang masih kelaparan, dan derita yang dimulai dari level global sampai interaksi antara dua kekasih. Semua karena pemisahan, pengotak-kotakkan, yang melampaui batas fungsi yang sesungguhnya. Mungkin inilah saatnya kita mempertaruhkan kenyamanan sudut pandang lama kita dengan sesuatu yang baru. Merengkuh sinkronisitas dan terbang bersamanya. ©

Cerita Pendek Dari Cafe novel

Cinta Tak Bertuan
    • Dewi Lestari

Sepanjang hidup, kita seolah tak berhenti berusaha menaklukkan cinta. Cinta harus satu, cinta tak boleh dua, cinta maksimal empat, dan seterusnya. Jika cinta matematis, pada angka berapakah ia pas dan pada angka berapakah ia bablas? Dan kita tak putus merumuskan cinta, padahal mungkin saja cinta yang merumuskan kita semua. Infinit merangkul yang finit.
Hidup berpasangan katanya sesuai dengan alam, seperti buaya yang hidup monogami tapi ironisnya malah menjadi ikon ketidaksetiaan. Namun terkadang kita melihat seekor jantan mengasuh sekian banyak betina sekaligus, berparade seperti rombongan sirkus. Dan itu pun ada di alam. Lalu ke mana manusia harus bercermin?
Sebagaimana semua terpecah menjadi dua kutub dalam alam dualitas ini, terpecahlah mereka yang percaya cinta multipel pastilah sakit dan khianat dengan mereka yang percaya cinta bisa dibagi selama bijak dan bajik. Yang satu bicara hukum publik dan nurani, yang satu bicara hukum agama dan kisah hidup orang besar. Yang satu mengusung komisi anti itu-ini, yang satu menghadiahi piala poligami.
Merupakan tantangan setiap kita untuk meniti tali keseimbangan antara intuisi individu dan konsensus sosial. Sukar bagi kita untuk menentukan dasar neraca yang mensponsori segala pertimbangan kita: apakah ini urusan salah dan benar, atau sebetulnya cocok dan tak cocok? Jika urusannya yang pertama, selamanya kita terjebak dalam debat kusir karena setiap orang akan merasa yang paling benar. Jika urusannya yang kedua, masalah akan lebih cepat selesai. Kecocokan saya bukan berarti kecocokan Anda, dan sebaliknya. Namun seperti yang kita amati dan alami, lebih sering kita memilih yang pertama agar berputar dalam debat yang tak kunjung selesai.
***
Semalam, saya menerima sms massal yang mengatasnamakan ibu-ibu seluruh Indonesia yang mengungkapkan kekecewaannya pada seorang tokoh yang berpoligami. Pada malam yang sama, sahabat saya menelepon dan kami mengobrolkan konsep poliamori (hubungan cinta lebih dari satu). Alhasil, saya terbawa untuk merenungi beberapa hal sekaligus.
Pertama, orang yang kita kenal sebatas persona memang hanya kita miliki personanya saja. Persona adalah lapisan informasi paling rapuh, pengenalan paling dangkal, dan oleh karena itu paling cepat musnah. Orang yang tidak kita kenal paling gampang untuk dijustifikasi ketimbang orang yang kita kenal dekat.
Kedua, apakah monogami-poligami dan monoamori-poliamori ini adalah sekat-sekat tegas yang menentangkan nurani versus ego dan 'setia' versus 'buaya'? Mungkinkah dikotomi itu sesungguhnya proses cair yang senantiasa berubah sesuai tahapan yang dijalani seseorang, ketimbang karakteristik baku yang harus dipilih atau distigmakan sekali seumur hidup?
Sungguh tidak mudah menjadi seseorang yang personanya diklaim sebagai milik umat banyak. Persona seperti secabik tisu yang dengan mudah dienyahkan, diganti dengan tisu baru lainnya yang dianggap lebih bagus dan benar. Banyak dari kita bermimpi dan berjuang mati-matian agar secabik diri kita dimiliki banyak orang. Hidup demikian memang sepintas menyenangkan dan menguntungkan, meski konsekuensinya titian tali yang kita jalani semakin tipis. Ilmu keseimbangan kita harus terus diperdalam. Tali itu harus dijalani ekstra hati-hati.
Tidak mudah juga menjadi seseorang yang sangat teguh berpegang pada persona orang lain, pada mereka yang dianggap tokoh, teladan, panutan. Status selebriti bisa ada karena persona yang dipabrikasi massal lewat media lalu 'selebaran'-nya menjumpai kita, dan kita pungut. Kita mengoleksi persona mereka seperti pemungut selebaran. Terkadang kita lupa, pengenalan dan pemahaman kita hanya sebatas iklan yang tertera. Oleh karenanya justifikasi yang kita lakukan seringnya bagai memecah air dengan batu; sementara dan percuma saja. Tak terasa efeknya bagi hidup kita, tak juga bagi hidup yang bersangkutan.
Kita yang kecewa barangkali bukan karena cinta telah diduakan. Cinta tak bertuan. Kitalah abdi-abdi cinta, mengalir dalam arusnya. Persepsi kitalah yang telah diduakan. Lalu kita merasa sakit, kita merasa dikhianati. Namun tengoklah apa yang sungguh-sungguh kita pegang selama ini. Perlukah kita ikut berteriak jika yang kita punya hanyalah selebarannya saja, bukan barangnya? Barangkali ini momen tepat untuk mengevaluasi aneka selebaran yang telah kita kumpulkan dan kita percayai mati-matian. Betapa seringnya kita hanyut dalam kecewa, padahal persepsi kitalah yang dikecewakan. Betapa seringnya kita menyalahkan pihak lain, padahal ketakberdayaan kita sendirilah yang ingin kita salahkan.
Apapun persepsi kita atas cinta, tak ada salahnya bersiap untuk senantiasa berubah. Jika hidup ini cair maka wadah hanyalah cara kita untuk memahami yang tak terpahami. Banyak cara untuk mewadahi air, finit mencoba merangkul infinit, tapi wadah bukan segalanya. Pelajaran yang dikandungnyalah yang tak berbatas dan selamanya tak bertuan, yang satu saat menghanyutkan dan melumerkan carik-carik selebaran yang kita puja. Siap tak siap, rela tak rela. ©

Penilaian Terhadap Blog Saya?

About

Followers